Senin, 07 November 2011

WALK






This song is a scoring music for indie movie,




title : 512 KM




I arrange and producing this music by my self




Describe:




Maybe “Walk” is the simple describe about what I fell with this music.




I can imagine about a girl who walk with her loneliness.




Nobody care about what she fells




Just walk, walk, and walk




No doubt about the destiny.




Please click the play button above thanks.









walk by ifanksense




Minggu, 06 November 2011

Saksi






Follow my blog with Bloglovin




Jangan hilang lagi ya, aku lelah mencari kamu.




Setidaknya ratusan kilometer aku tempuh untuk melihat kamu lagi.

Dimakan Properti


Empat bulan absen gak meluangkan waktu untuk menulis membuat saya semakin blank sama yang namanya writing skill. Ditambah lagi status saya yang udah bener-bener menjadi mahasiswa tingkat akhir. Gak bisa dielakan meemang kalau waktu itu jalan terus. Cuma satu hal yang bisa saya lakukan sekarang ini supaya gak diledekin sama waktu, just practice to write.


Sekarang ini saya mau nyeritain sedikit keberadaan kota satelitnya Jakarta yang progress penbangunan infrastrukturnya gila-gilaan banget yaitu, kota Tangerang. Sebenarnya kalau kita mau heran, itu udah terlambat. Pertanyaannya sekarang kenapa kota segersang Tangerang yang secara geografis ada di pesisir pantai itu bisa mengalami pertumbuhan yang hebat?


Bapak saya sering banget cerita tentang Tangerang ke saya baik itu kalau lagi santai di rumah ataupun kalau lagi sepedahan sore. Padahal Bapak saya itu aslinya orang Bali, gak ada darah Sundanya sama sekali. Mungkin karena dia memulai hidup sebagai kepala keluarga di kota tersebut, membuat beliau perduli dengan kota industri tersebut. Sampai-sampai beliau enggan untuk meinggalkan komplek perumahan kami yang kumuh, karena saking cintanya zzzzzzz.


Cerita beliau tentang Tangerang yang baru-baru ini saya ingat itu, bahwa kita sudah dimakan properti. Mau dibilang bingung enggak, tapi dibilang binggung iya…


Intinya sih sekarang Tangerang udah jadi kota perumahan, mau itu Tangerang Kota, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan semuanya udah jadi pusat sasaran property. Alasan yang paling logis karena jarak ibu kota ke Tangerang itu bisa ditempuh naik ojek. Jadi gak heran kalau orang-orang yang kerja di Jakarata banyak yang tinggal di Tangerang. Selain itu kota yang memiliki banyak akses jalan tol ini juga menjadi tempat tinggal para etnis tiong hoa dalam jumlah besar. Keyakinan mereka yang percaya bahwa rezeki itu dekat dengan laut, membuat Tangerang memiliki penduduk Chinese cukup banyak. Maka dari itu bisnis property terus berkembang setiap harinya.


Sebenarnya sih sah-sah aja kalau bisnis properti di Tangerang berkembang pesat, kan yang untung masyarakat juga. Fasilitas-fasilitas seperti mall, rumah sakit, restaurant, toko barang-barang aneh, makin banyak di Tangerang. Jadi masyarkat gak usah macet-macetan lagi buat nyari fasilitas tersebut ke Jakarta.


Walaupun demikian disetiap hal-hal baik terkadang muncul hal-hal yang kurang baik. Selain dari semakin berkurangnya lahan serapan air di Tangerang, sisi sosial masyarakat juga terkena dampak bisnis property. Saya gak bicara maslah lingkungan disini, buang sampah aja saya masih ke got. Semakin banyaknya real estate yang dibangun di sekitar warga dengan tingkat ekonomi rendah, membuat ketimpangan sosial terjadi. Bagaimana tidak, kebanyakan dari perusahaan real estate tersebut enggan membayar pembebasan tanah-tanah warga yang masih tersisa di sekitarnya. Mereka lebih memilih membangun batas antara real estate dengan pemukiman kumuh tersebut. Jika hal tersebut terus dibiarkan maka tidak dielakan lagi suatu saat kejadian seperti tahun’98 akan terjadi lagi. Ketika krisis sosial yang memisahkan si miskin dan si kaya, membuat rakyat akan bergerak. Civil power yang terbukti pada tahun’98 bisa terjadi lagi, selama rakyat belum bisa sepenuhnya menempati properti-properti tersebut.


Ngeri juga kalau harus ngebayangin tragedi kayak gitu terjadi lagi. Saya yang masih kecil waktu itu aja main gundu di dalam rumah, gara-gara gak boleh keluar. Tapi apa yang bapak saya bilang itu ada benarnya juga kalau status masyarkat sudah mulai dimakan oleh properti. Kesenjangan yang kontras membuat rumah-rumah mewah tersebut nantinya akan sama dengan gubuk disekitarnya.