Minggu, 05 Februari 2012

My Heart Won't Admit What My Mind Already Know

This song was inspired by my friend (Dimas Ramadhani) advice for me
i wrote the lyrics,
and i ask for help from M. Dwiki Prastianto to take the vocal
we compose this song together,
all the recording porsess we did in my room

So please enjoy the song

My Heart Won’t Admit What My Mind Already Know

i beg you to stay with me tonight

but the moon and the stars face me to the sun

every single time i try to hold you down,

the clock tic toc too fast till you walk away

even i know what you've done i beg to you once again

i can lay my heart to play your game

its hurt to know

but my heart won't admit what my mind already know

i dont want every moment we've made just gone away

like when you walk out the door and leave me last night

even i know what you done i beg to you once again

i can lay my heart to play your game

its hurt to know

but my heart won't admit what my mind already know


stay here don't go, far away

forgive me and let's start once again

Jumat, 03 Februari 2012

Everlasting

Just like X and Y they never separate

Just like Mail and Stamp they always attached

Just like country and society they always united

Just like car and wheel they always run together

Just like moon and star they always dance together

Just like salad and mayonnaise they always served together

And

Just like kings and queens

They everlasting



Senin, 07 November 2011

WALK






This song is a scoring music for indie movie,




title : 512 KM




I arrange and producing this music by my self




Describe:




Maybe “Walk” is the simple describe about what I fell with this music.




I can imagine about a girl who walk with her loneliness.




Nobody care about what she fells




Just walk, walk, and walk




No doubt about the destiny.




Please click the play button above thanks.









walk by ifanksense




Minggu, 06 November 2011

Saksi






Follow my blog with Bloglovin




Jangan hilang lagi ya, aku lelah mencari kamu.




Setidaknya ratusan kilometer aku tempuh untuk melihat kamu lagi.

Dimakan Properti


Empat bulan absen gak meluangkan waktu untuk menulis membuat saya semakin blank sama yang namanya writing skill. Ditambah lagi status saya yang udah bener-bener menjadi mahasiswa tingkat akhir. Gak bisa dielakan meemang kalau waktu itu jalan terus. Cuma satu hal yang bisa saya lakukan sekarang ini supaya gak diledekin sama waktu, just practice to write.


Sekarang ini saya mau nyeritain sedikit keberadaan kota satelitnya Jakarta yang progress penbangunan infrastrukturnya gila-gilaan banget yaitu, kota Tangerang. Sebenarnya kalau kita mau heran, itu udah terlambat. Pertanyaannya sekarang kenapa kota segersang Tangerang yang secara geografis ada di pesisir pantai itu bisa mengalami pertumbuhan yang hebat?


Bapak saya sering banget cerita tentang Tangerang ke saya baik itu kalau lagi santai di rumah ataupun kalau lagi sepedahan sore. Padahal Bapak saya itu aslinya orang Bali, gak ada darah Sundanya sama sekali. Mungkin karena dia memulai hidup sebagai kepala keluarga di kota tersebut, membuat beliau perduli dengan kota industri tersebut. Sampai-sampai beliau enggan untuk meinggalkan komplek perumahan kami yang kumuh, karena saking cintanya zzzzzzz.


Cerita beliau tentang Tangerang yang baru-baru ini saya ingat itu, bahwa kita sudah dimakan properti. Mau dibilang bingung enggak, tapi dibilang binggung iya…


Intinya sih sekarang Tangerang udah jadi kota perumahan, mau itu Tangerang Kota, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan semuanya udah jadi pusat sasaran property. Alasan yang paling logis karena jarak ibu kota ke Tangerang itu bisa ditempuh naik ojek. Jadi gak heran kalau orang-orang yang kerja di Jakarata banyak yang tinggal di Tangerang. Selain itu kota yang memiliki banyak akses jalan tol ini juga menjadi tempat tinggal para etnis tiong hoa dalam jumlah besar. Keyakinan mereka yang percaya bahwa rezeki itu dekat dengan laut, membuat Tangerang memiliki penduduk Chinese cukup banyak. Maka dari itu bisnis property terus berkembang setiap harinya.


Sebenarnya sih sah-sah aja kalau bisnis properti di Tangerang berkembang pesat, kan yang untung masyarakat juga. Fasilitas-fasilitas seperti mall, rumah sakit, restaurant, toko barang-barang aneh, makin banyak di Tangerang. Jadi masyarkat gak usah macet-macetan lagi buat nyari fasilitas tersebut ke Jakarta.


Walaupun demikian disetiap hal-hal baik terkadang muncul hal-hal yang kurang baik. Selain dari semakin berkurangnya lahan serapan air di Tangerang, sisi sosial masyarakat juga terkena dampak bisnis property. Saya gak bicara maslah lingkungan disini, buang sampah aja saya masih ke got. Semakin banyaknya real estate yang dibangun di sekitar warga dengan tingkat ekonomi rendah, membuat ketimpangan sosial terjadi. Bagaimana tidak, kebanyakan dari perusahaan real estate tersebut enggan membayar pembebasan tanah-tanah warga yang masih tersisa di sekitarnya. Mereka lebih memilih membangun batas antara real estate dengan pemukiman kumuh tersebut. Jika hal tersebut terus dibiarkan maka tidak dielakan lagi suatu saat kejadian seperti tahun’98 akan terjadi lagi. Ketika krisis sosial yang memisahkan si miskin dan si kaya, membuat rakyat akan bergerak. Civil power yang terbukti pada tahun’98 bisa terjadi lagi, selama rakyat belum bisa sepenuhnya menempati properti-properti tersebut.


Ngeri juga kalau harus ngebayangin tragedi kayak gitu terjadi lagi. Saya yang masih kecil waktu itu aja main gundu di dalam rumah, gara-gara gak boleh keluar. Tapi apa yang bapak saya bilang itu ada benarnya juga kalau status masyarkat sudah mulai dimakan oleh properti. Kesenjangan yang kontras membuat rumah-rumah mewah tersebut nantinya akan sama dengan gubuk disekitarnya.

Sabtu, 11 Juni 2011

CHANCES

Naif memang jika saya harus mengatakan bahwa tiga tahun ini berlalu begitu lambat dan indah. kenyataannya sekarang ini saya hanya seorang mahasiswa yang akan "berstatus" mahasiswa tingkat akhir tanpa pengalaman. Jika ada yang harus disalahkan atas hal ini tentunya adalah mulut-mulut gaib yang mestimulus otak saya hingga tiga tahun berlalu tanpa bekas.


Bermimpi tentang masa depan yang sempurna sesuai dengan apa yang kita inginkan memang indah, seperti belanja alat elektronik seharga kacang rebus. Semua itu akan berlangsung lama hingga akhirnya kita tersadar bahwa, kata yang sering diucapkan di film-film bijak (hidup itu keras) begitu nyata di depan kita.



"Regret will not solve the problem", memang kata-kata tersebut adalah jawaban paling logis untuk orang seperti saya yang merasa telah melewatkan segalanya. There's so many chances that i will pass untill i realized i'am not teen anymore. Menyesal memang, ketika kita merasa berada jauh dibelakang orang lain disaat kita memiliki kesempatan yang sama tapi kita elakkan begitu saja. Ditambah lagi kita merasa bahwa kita berada di ranah tersebut. Hingga akhirnya kita merasa lelah, menyerah, bosan, muak dengan hal yang kita idam-idamkan, karena ulah kita sendiri yang melewatkan "chances" tersebut.



Sekarang ketika kita sadar bahwa kita harus bangkit dari duduk dan berdiri lalu menghadapi kembali "chances" tersebut, kita merasa tidak memenuhi kriteria untuk berada di dalam kesempatan tersebut. Kita merasa tidak memiliki experience, hingga akhirnya kita terduduk kembali.



Padahal bukan berarti bodoh jika kita tidak memiliki pengalaman, kemampuan kita sama dengan orang-orang yang berpengalaman. Memang sih menjadi orang yang teoritis saja tidak cukup, bahkan saya



bukan orang yang teoritis pula.


waktu terus memacu cepat hari-hari saya, sementara "chances" tidak konstan larinya seperti waktu yang semakin tipis.


Jumat, 10 Juni 2011

"MULAI"

"MULAI"



Mulai adalah sebuah kata yang terdiri dari lima huruf dan di dominasi oleh tiga buah huruf vokal. Bagi saya kata "mulai" bukan lah sebuah kata sakral yang memiliki makna tertentu akibat pengalaman spiritual. Kata "mulai" yang saya tulis itu adalah sebuah penanda bahwa saya mulai menyadari bahwa banyak sekali hal yang saya lewati begitu saja tanpa saya sadari itu penting untuk keberlanjutan hidup saya. mulai dari hal yang berbau akademis (walaupun kampus saya tidak bau rumus), cara menulis yang benar, dan membiasakan membaca hal-hal yang ada di depan saya walaupun itu hanya papan reklame. Hadirnya kata "mulai" ini yang jika dalam penulisannya dapat melenceng menjadi "mulia" akan menjadi sebuah penanda yang dimana saya menyadari harus "mulai" lagi dari awal.

Sejauh ini blog saya hanyalah blog yang memiliki satu pengikut dan hanya berisi potongan-potongan lagu yang saya karang. saya memang bukan penulis yang baik, bahkan penggunaan ejaan, tanda baca, dan penggunaan kata membuat saya harus "mulai" lagi. Tidak heran blog saya sepi dikunjungi orang. walau demikian dengan "mulai" ini saya akan "mulai" untuk "mulai".